Capres Muda yang Potensial Tahun 2014 II

Diterbitkan Pada 11 Juni 2013
Ditulis Oleh : gatra.com


JAKARTA -  Di antara tiga parpol terbesar hasil Pemilu 2009, PDIP tercatat produktif mengusung kandidat alternatif potensial, meski tak semua berhasil. [Capres Muda yang Potensial Tahun 2014 I]

Kasus Jokowi menunjukkan, eksperimen sukses skala daerah memberinya modal untuk melesat dalam skala nasional.

Efek kemenangan Ganjar di Jawa Tengah menjadi penting dimonitor. Bila kebijakan tahun pertama Ganjar penuh terobosan, seperti Jokowi di Jakarta, bukan mustahil elektabilitas nasionalnya ikut meroket.


Parpol tiga besar lainnya, Golkar, tidak banyak memberi ruang pada capres alternatif. Tiket capres sudah dikantongi ketua umumnya, Aburizal Bakrie. CSIS menyebut Golkar sebagai partai parlemen.


Tiga kali pemilu era reformasi sukses bertengger di dua besar, tapi capres usungannya selalu terpental. Partai pemenang Pemilu 2009, Demokrat, kini kehilangan capres kuat setelah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tak lagi bisa mencalonkan diri.


Demokrat hendak membuka konvensi capres. Salah satu calon peserta konvensi yang sedang berakselerasi menaikkan elektabitas dan menyatakan siap adalah Gita Wirjawan, 47 tahun, Menteri Perdagangan.


Fungsionaris DPP Demokrat, Kastorius Sinaga, salah satu promotor utama Gita, menyebutnya sebagai kandidat favorit SBY. Lama studi dan bekerja di luar negeri, Gita sadar, "Saya perlu lebih mengakarrumputkan diri saya."


Karena itu, intensitas interaksi Gita dengan akar rumput belakangan meningkat. Pada beberapa kegiatan publik itu, Gita menyatakan kesiapannya bila dicalonkan sebagai presiden.


Sabtu malam 18 Mei lalu, Gita mengisi program panduan Rosiana Silalahi "Rossy Goes to Campus" dalam rangka ulang tahun UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Usai acara, kepada pers, Gita kembali menyatakan kesiapan jadi capres.


Paginya, Gita menyampaikan kuliah umum di Pascasarjana IPB, sekaligus menunjukkan kepiawaiannya memainkan piano sambil melantukan lagu Padamu Negeri.


Empat hari berselang, 22 Mei, Gita berkunjung ke Cirebon, memeriksa dampak kebijakan larangan ekspor rotan bahan baku bagi peningkatan industri rotan setempat dan penyerapan tenaga kerja. Gita mengklaim, banyak kebijakannya yang pro-rakyat.


Di layar kaca, Gita pernah tampil sebagai presenter berita SCTV, saat ulang tahun "Liputan 6" SCTV, 20 Mei lalu. Istimewanya, ia berduet dengan Jokowi, capres terkuat versi banyak survei. Beredarlah spekulasi, Gita cocok diduetkan dengan Jokowi.


Pada puncak final Liga Champions, 27 Mei lalu, saat jutaan pasang mata melotot, Gita tampil sebagai komentator. "Saya dulu atlet, lalu jadi pemain musik, tapi ibu saya minta saya jadi akuntan," ujar Gita.


Kepada GATRA, Gita menyatakan belum punya tim sukses, tapi punya dukungan banyak relawan. "Sebagian besar mahasiswa," katanya. Selain intens berdiskusi dengan Kastorius Sinaga, Gita juga menyebut Board of Advisor CSIS, Jeffrie Geovanie, sebagai teman dekat diskusi politik.


Ketua Umum GP Ansor, Nusron Wahid, yang juga angggota Fraksi Golkar DPR, disebut-sebut pula banyak memediasi Gita berkunjung ke sejumlah pesantren di Jawa Tengah dan Jawa Timur.


Pertengahan April lalu, Gita mengunjungi Pesantren Bumi Sholawat, Tulangan, Sidoarjo, Jawa Timur. Dalam momentum itu, kepada pers, Gita menyatakan kesiapannya ikut konvensi capres Demokrat.


Kastorius Sinaga menjelaskan, awalnya Gita menolak terjun ke politik. Kesediaan dicapai setelah Gita dan Kastorius sering berdiskusi. Langkah pertama, Gita harus ikut kovensi Demokrat. "Lewat kovensi, dia akan mendapat dukungan partai," kata Kastorius.


Kastorius optimistis, elektabilitas Gita gampang dipoles. "Dia charming. Komunikasinya sangat bagus. Itu menjadi modal agar elektabilitas melambung," papar Kastorius kepada GATRA.


Sebagai bandingan, tingkat popularitas Barack Obama, ketika pertama ikut konvensi Partai Demokrat di Amerika, hanyal 1,9%. Sedangkan popularitas Hillary Clinton 100%. Elektabilitas Obama kemudian melesat sejak ikut konvensi.


"Konvensi akan dijadikan katalisator untuk menemukan tokoh muda agar nantinya mendapat legitimasi dari publik," ujar Kastorius perihal konvensi Demokrat Indonesia.


Tudingan bahwa Gita neolib dan antek asing ditepis Kantorius. Sepak terjang dan kebijakan Gita justru sebaliknya. "Dia pernah berdebat dengan Duta Besar Amerika terkait kebijakan proteksi. Jadi, sebenarnya dia nasionalis," kata Kastorius.


Gita membatasi waralaba minimarket, waralaba rumah makan, dan melarang impor rotan bahan baku untuk perlindungan rakyat kecil.


Profil Gita, bagi Kastorius, cocok dengan kriteria capres versi SBY yang disampaikan saat ulang tahun Demokrat tahun 2011. Muda, cerdas, mampu membawa ekonomi Indonesia bermartabat skala internasional, sinambung dengan kebijakan SBY, mendapat pengakuan domestik dan internasional, serta bersih.


"Saya dan banyak kawan di Demokrat menilai sosok yang dimaksud SBY adalah Gita Wirjawan," tutur Kastorius. "Di beberapa forum internasional, saya lihat, kalau ada Pak SBY, di kanannya pasti ada Gita."


Board of Advisor CSIS, Jeffrie Geovanie, memprediksi, konvensi Demokrat yang diperkirakan dimulai Agustus akan menjadi panggung besar para capres alternatif. Jeffrie menyebut figur Gita Wirjawan, Dinno Patti Jalal, Chairul Tanjung, Dahlan Iskan, Mahfud MD, dan Irman Gusman.


"Jangan dulu pesimistis bahwa 2014 akan hanya diisi wajah-wajah 4L (lu lagi lu lagi). Jangan-jangan, tidak satu pun dari wajah-wajah 4L itu nongol pada pemilu capres 2014," katanya dalam rilis bulan lalu.


Sumber GATRA mengabarkan, SBY secara khusus telah mengundang Chairul Tanjung bergabung dalam konvensi Demokrat. Tapi Chairul masih akan melakukan istikharah pada Ramadan nanti.


Nama Chairul pernah melambung dinominasikan beberapa politikus PKS sebagai bakal capres. Zulkifliemansyah, Al Muzammil Yusuf, dan Mustafa Kamal pernah menyebut nama Chairul. Tapi Anis Matta, saat masih sekjen, pernah menepis, "Itu hanya bercanda."


Anggota Majelis Syuro PKS, Sohibul Iman, kepada Hayati Nupus dari GATRA menjelaskan, Majelis Syuro PKS belum membuat keputusan tentang capres.[001]

 Bersambung...